Komando Pasukan Khusus (Kopassus): Kisah Para Baret Merah dan Operasi Legendaris
Di antara jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI), Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berdiri sebagai unit elite yang kisah keberanian dan operasinya telah menjadi legenda. Dikenal dengan sebutan Baret Merah karena baret berwarna merah marun yang mereka kenakan, Kopassus adalah pasukan khusus TNI Angkatan Darat (TNI AD) yang memiliki spesialisasi dalam operasi Special Warfare, termasuk counter-insurgency (kontra-pemberontakan), anti-teror, intelijen, dan perang non-konvensional. Sejarah pembentukan dan evolusi Komando Pasukan Khusus mencerminkan tantangan keamanan yang dihadapi Indonesia, dari masa-masa awal kemerdekaan hingga ancaman modern saat ini. Kehadiran mereka di medan operasi, baik di dalam maupun luar negeri, selalu menjadi penentu keberhasilan misi kritis negara.
Cikal bakal Komando Pasukan Khusus berawal dari Kesatuan Komando Tentara Teritorium III (KKTT III) yang dibentuk pada tanggal 16 April 1952 atas prakarsa Kolonel Alex Evert Kawilarang dan Mayor Mochammad Idjon Djanbi (seorang mantan perwira komando Belanda). Idjon Djanbi adalah founder dan komandan pertama, bertugas melatih unit ini dengan standar komando dunia. Dalam perkembangannya, nama unit ini beberapa kali berganti, dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) hingga akhirnya menjadi Kopassus pada tahun 1986.
Pelatihan dan Spesialisasi Ekstrem
Apa yang membuat personel Komando Pasukan Khusus begitu elit adalah proses seleksi dan pelatihan yang brutal, dikenal sebagai Pendidikan Komando (Komando Course). Pelatihan ini memakan waktu rata-rata 7 bulan dan terdiri dari tiga tahap utama: latihan di hutan dan gunung, di rawa dan laut, serta taktik penerjunan.
Selama fase di hutan dan gunung, prajurit dilatih untuk bertahan hidup dengan makanan seminimal mungkin, berorientasi di medan sulit, dan bergerak tanpa terdeteksi. Puncak dari pelatihan ini adalah fase survival di mana peserta harus bertahan hidup di alam liar dalam kondisi terisolasi total selama beberapa hari. Seorang pelatih Komando, Sersan Mayor Purnawirawan Budi Harjo, dalam wawancara di Sekolah Komando pada hari Jumat 11 April 2025, menyatakan bahwa tujuan utama latihan ini adalah “menghancurkan ego individu dan membangun mental baja yang tidak mengenal kata menyerah.” Hanya sekitar 30% dari pendaftar awal yang berhasil menyelesaikan seluruh kursus dan berhak menyandang baret merah.
Operasi Legendaris yang Mengukir Sejarah
Kopassus telah terlibat dalam berbagai operasi paling penting dalam sejarah Indonesia. Salah satu operasi yang paling melegenda adalah Operasi Pembebasan Sandera di Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand pada tanggal 31 Maret 1981. Dalam operasi berisiko tinggi ini, tim Kopassus berhasil melumpuhkan teroris dan membebaskan sandera dalam waktu kurang dari 3 menit. Operasi Woyla diakui sebagai salah satu operasi anti-teror paling sukses di dunia pada masanya dan menunjukkan kemampuan tinggi Komando Pasukan Khusus dalam hostage rescue lintas negara.
Selain itu, Kopassus juga memainkan Peran Krusial dalam penumpasan berbagai pemberontakan di dalam negeri dan operasi pengamanan perbatasan. Di era modern, Komando Pasukan Khusus menjadi garda terdepan dalam pelatihan bersama (joint exercise) dengan pasukan elite negara sahabat, seperti SFOD-D (Delta Force) Amerika Serikat, untuk berbagi taktik dan meningkatkan kapabilitas kontraterorisme global.