Taring di Bawah Laut: Ambisi Indonesia Membangun Armada Kapal Selam yang Mandiri

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada kekuatan laut untuk menjaga kedaulatan dan mengamankan jalur maritim strategisnya. Dalam konteks pertahanan laut, kapal selam berperan sebagai deterrent (faktor pencegah) yang sangat efektif—kekuatan tak terlihat yang mampu mengancam kapal permukaan lawan. Indonesia memiliki ambisi besar untuk Membangun Armada kapal selam yang kredibel dan, yang lebih penting, mandiri. Rencana jangka panjang ini tidak hanya fokus pada akuisisi unit baru, tetapi juga pada penguasaan teknologi perkapalan bawah air melalui transfer teknologi dan pemberdayaan industri pertahanan dalam negeri. Membangun Armada selam yang kuat adalah kunci untuk mengontrol Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang vital.

Visi untuk Membangun Armada kapal selam mandiri termaktub dalam Proyek Minimum Essential Force (MEF) tahap III (2020-2024), di mana target ideal adalah memiliki total minimal 8 hingga 12 unit kapal selam di masa depan. Akuisisi terbaru dan paling signifikan adalah kapal selam kelas Changbogo (modifikasi dari Tipe 209/1400) melalui kerjasama strategis dengan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) dari Korea Selatan. Program ini bersifat multi-years dan mencakup transfer teknologi yang masif. Kapal selam ketiga dari seri ini, KRI Alugoro (405), menjadi tonggak sejarah karena merupakan kapal selam pertama yang dirakit sepenuhnya di dalam negeri, tepatnya di fasilitas PT PAL Indonesia di Surabaya. KRI Alugoro mulai berdinas resmi pada Maret 2021.

Kemampuan untuk merakit kapal selam di dalam negeri adalah langkah pertama dan paling krusial menuju kemandirian. PT PAL Indonesia kini memiliki kemampuan untuk melakukan overhaul dan refitting (perbaikan dan pemeliharaan besar) kapal selam, yang sebelumnya harus dilakukan di luar negeri dengan biaya dan waktu yang sangat besar. Rencana strategis selanjutnya adalah peningkatan kemampuan industri lokal untuk memproduksi komponen utama kapal selam secara mandiri, bukan hanya merakit. Ini termasuk sistem sonar, propulsion (sistem pendorong), dan sistem peluncuran torpedo.

Kebutuhan akan kapal selam baru didorong oleh pentingnya menjaga tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI I, II, dan III) yang merupakan jalur perdagangan global yang sensitif. Kapal selam Indonesia, yang dijuluki “Hantu Laut,” bertugas melakukan patroli rahasia di kedalaman, mengumpulkan data intelijen, dan mengunci target jika terjadi konflik. Untuk meningkatkan efektivitas operasional, TNI Angkatan Laut (TNI AL) pada Juli 2024 telah meningkatkan pelatihan awak kapal selam. Setiap awak kapal selam harus menjalani pelatihan intensif di Komando Pendidikan dan Latihan Angkatan Laut (Kodiklatal) selama lebih dari 18 bulan sebelum diizinkan bertugas. Dengan mengintegrasikan teknologi canggih dan kemampuan produksi lokal, Indonesia menegaskan niatnya untuk menjadi kekuatan maritim yang disegani di kawasan Asia Tenggara.